July

20th

Bernyanyi dari Hati

Karena bermusik bukan merupakan ambisi, melainkan panggilan hati. Bermusik selama hati tetap bernyanyi. read more.....

Apr

20th

Story

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. read more.....

Bernyanyi dari Hati

Pertama kali mengenal nyanyi ketika SD, saat itu didaulat mewakili sekolah untuk berlomba di tingkat kecamatan hingga kotamadya. Sejak saat itu menyanyi menjadi sesuatu yang menyenangkan. Karenanya hobi ini berlanjut ke SMP dengan mengikuti kegiatan paduan suara. Di luar kegiatan sekolah itu saya membentuk sebuah band. Terinspirasi dari The Groove, kami memberi nama band kami Bingkay. Pada awal terbetuknya, Bingkay diperkuat duet vokalis yaitu saya dan seorang pria yang kebetulan adalah saudara sepupu sendiri. Dalam perjalanan musiknya, Bingkay band juga membawakan lagu bernuansa fussion jazz.

Seperti band pada umumnya, mengumpulkan karya-karya sendiri, perfom di pensi dan cafe, mengikuti festival band hingga mengirimkan demo lagu ke label-label musik, akhirnya setelah dua tahun Bingkay band terbentuk, formasi terakhirnya adalah dengan saya sendiri sebagai vokalisnya.

Mengikuti karakter vokal yang saya miliki, teman-teman band pun mengubah aliran musik Bingkay band menjadi pop progresive. Pada saat itu referensi musik yang diambil seperti Toto, Celine Dion, Shelia majid, Erwin Gutawa hingga Slank.Dari beberapa referensi itulah selera musik saya berkembang, memang tidak seperti anak muda seumuran saya pada umumnya yang menyukai musik modern lainnya.

Bingkay band saat itu rajin sekali mengikuti festival demi festival, sesuai harapan band-band yang berpetualang di festival, akhirnya kami di lirik oleh label Sony Music. Festival yang mempertemukan kami dengan Sony Music adalah Jakarta Music Festival. Dari festival tersebut, Sony Music menjadikan salah satu lagu kami di album kompilasi JMF 2003.

Mengapa saya begitu suka menyanyi? menurut saya itu karena saya tidak pernah mengikuti kursus vokal di sekolah musik. Sejak awal menyanyi merupakan panggilan dari hati. Karenanya saya terbiasa untuk otodidak dan belajar dari pengalaman saja. Tentunya perjalanan otodidak ini memiliki kelebihan dan juga kekurangannya sendiri. Menurut orang-orang di sekitar saya, terutama mereka yang musisi, nyanyian saya terasa berasal dari hati, sehingga sebuah lagu dapat memiliki jiwa. Meski senang dengan ungkapan-unfkapan seperti itu dari orang lain, saya juga merasakan ruginya otodidak, yaitu ketika mengikuti Cilapop 2005 kategori penyanyi. Memang, menurut penyelenggara saya memilki karakter vokal yang tidak "seragam" dengan peserta lainnya, tapi ruginya saya sulit membaca not balok atau partitur. Pemahaman saya akan musik pun tidak sedalam teman-teman lainnya yang jebolan sekolah musik.

Alhamdulillah, Cilapop 2005 memberikan sangat banyak pengalaman dan tentunya pelajaran berharga. Selama 2 bulan dikarantina dan bertemu dengan pengajar serta musisi hebat membuat saya sadar bahwa diperlukan belajar formal dalam bernyanyi, kata mbak Uci Nurul itulah yang membedakan bernyanyi dan menyanyi...

Cilapop 2005 mengantarkan pada album kompilasi dalam format saya sebagai solis. Melihat perkembangan itu, teman-teman Bingkay Band mendukung saya untuk menjadi solois, walaupun akhirnya band ini tidak lagi berjalan dan akhirnya membubarkan diri.

Tahun 2006 hingga 2008 bisa dibilang karir menyanyi saya "mati suri", karena beralih pada dunia news presenter. Namun, musik memang panggian hati saya, nasib pun membawa saya kembali bergabung dengan sebuah band yang formasinya 3 wanita dengan nama The PoP's pada tahun 2009-2011 dalam naungan label musik Nagaswara.

Tetapi bermusik dan menjadi besar di dunia musik bukan urusan mudah. Butuh banyak keseriusan, fokus, usaha, dan keberuntungan. Sayang, single yang dikeluarkan The PoP’s tidak maksimal dipasarkan. Walaupun sudah sempat ada video clip dan tour beberapa kota di Indonesia yang saya upayakan sendiri, belum cukup membawa The PoP’s mengudara tinggi. Tetapi saya sangat bersyukur karena saya menyerap begitu banyak pelajaran berharga, seperti, fungsi manajemen dan promosi, juga apa yang sekiranya dibutuhkan sebuah karya untuk mengudara. Keputusan yang menurut saya terbaik ketika kontrak dengan Nagaswara berakhir, adalah tidak lagi memperpanjang, kemudian saya juga memutuskan mundur dari band.

Pelajaran bermusik selama ini makin meyakinkan saya bahwa musik adalah sesungguhnya panggilan hati. Kini, saya belajar berkarya dengan musik dan karakter yang benar-benar jujur. Walaupun tarik suara adalah obsesi, saya tidak menjalaninya dengan ambisius. Karena saya meyakini kejujuran dan cinta akan musik akan memberikan kepuasan di dalam batin yang lebih besar.

Memang sudah obsesi dan panggilan hati, saya tidak akan berhenti bermusik dan akan terus belajar. Salah satu kegiatan belajar ini saya wujudkan dengan menjadi murid seorang musisi yang telah sejak lama saya idolakan sejak awal saya bernyanyi, teteh Rieka Roeslan. Nasib juga yang mempertemukan saya dengan Rieka Roslan. Tidak hanya belajar teknik vokal, namun diajarkan pula stage performance.

Teh Rieka mengatakan untuk mengenal karakter vokal, terlebih dahulu mengeksplor segala jenis warna musik, karena dari berbagai jenis musik tersebut kita mengenal karakter vokal mana cocok dengan kita. Namun, walau sudah membawakan lagu jazz, blues, latin, rock hingga pop, Rieka pun masih kesulitan memfavoritkan di karakter dan genre apa vokal saya. Saya bersyukur karena artinya, kemampuan saya menyanyikan berbagai genre dinilai positif karena bisa masuk di manapun. Walaupun teh Rieka masih berharap bisa menemukan genre yang paling kuat saya bawakan.

Sekitar 3 bulan berguru kepada Rieka Roeslan, saya mencoba membuat project demo solo dengan salah satu musisi yang menawarkan bekerja sama, Krisna Balagita. Dengan konsep pop progresive Krisna meracik musik dengan lagu ciptannya. Ada 2 lagu yang di arransemen kembali seperti Haruskah Kumati dan Setingginya Nirwana. Sampai saat ini lagu lain masih dikumpulkan sebagai materi mini album solo.

Sambil project itu berjalan, saya dan teman-teman band lain membuat project covering lagu, kemudian merekam nya live di video dan meng-upload ke YouTube. Artinya, kesempatan bermusik seperti apapun, baik besar maupun kecil akan saya jalani. Karena bermusik bukan merupakan ambisi, melainkan panggilan hati. Bermusik selama hati tetap bernyanyi.